ArtikelIbunda Para Imam

Menggoda yang Dibolehkan

Ibunda Para Imam

Ustadz Zulfahmie menasehati para bunda bahwa, sikap MENGGODA ini boleh dilakukan, HANYA KEPADA SUAMI. Hal ini diperintahkan Allah pada QS. Al-Ahzab:33, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias (tabarruj) dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dahulu…”.
Kata tabarruj berasal dari akar kata “Al-Buruj” yakni, gugusan bintang, tempat yang tinggi, menara (“burj”, seperti burj Khalifa, burj Monas, burj Tokyo, burj Petronas, dll) yang maknanya “tinggi, menonjol, benteng yang kokoh.”

Catatan “Kode”

Hikmah bukan I’jaz-nya adalah, “Janganlah kalian menonjolkan diri.” Contohnya, ibu-ibu majelis ta’lim yang berdandan berlebihan. Alhamdulillah, di Kuttab Al-Fatih tidak ada yang seperti ini. Bukan berarti tidak boleh kaya (memiliki perhiasan, – red), sebab pada “The Great Story of Muhammad” dijelaskan bahwa, Rasul tidak punya “motor” (kendaraan roda/kaki dua), tetapi beliau selalunya memiliki “mobil” (kendaraan roda/kaki empat). Inilah “kode” dalam siroh bahwa “jadi muslim harus kaya”, sebagai wasilah dalam berdakwah. [Khususnya dianjurkan ikhtiarnya kepada para ayah].

Menggoda Isteri

Sementara kepada para ayah, terkait menggoda, beliau menukil perkataan Umar bin Khattab tentang sikap para suami di masa jahiliyah yang tidak layak dilakukan yakni, “Kami beribadah
suami isteri itu dengan kaki, tidak ada cumbu rayu, tidak ada goda-menggoda.”

Maroji Siroh Praktis

Menurut Ustadz Zulfahmie, kisah-kisah siroh teladan ini jika dimaroji, terdapat pada salah satu kitab yang mudah kita hayati. Namanya Kitab “Nurul Yaqin” karya Imam Ahmad Baraja, penyampaiannya paling simple dan cocok untuk anak-anak.
Kisah-kisah pada kitab tersebut sesuai dengan yang biasa disampaikan Ustadz Budi. Bagi Ustadz Zulfahmie, ini merupakan muroja’ah beliau dari ilmu yang diperoleh ketika kecil. Maasyaa Allah. [Memang ruh bersatu dengan yang serupa ya bunda]. ? Selain mengambil hikmah dari wanita shalihah di zaman Nabi, kita juga dapat menggali pelajaran dari ibunda para imam di
masa tabi’in.

ditulis oleh Ust. Ahmad Zulfahmie

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close