Artikel

Mutiara Cinta Terindah

cerpen Edgar Hamas

Malam begitu sunyi,menyelimuti hatiku yang sedang remuk redam, hancur luluh lantak .Semburat kesedihan begitu menyambar keras ,tak mau mengampuni diriku.Ya Allah, mengapa kau tambatkan hatinya pada orang lain,yang begitu semu,yang seakan tak pernah ada?…mengapa yang aku cintai pergi, hanya meninggalkan kenangan semu ketika aku mengingat wajahnya yang berselimut jilbab biru muda, merona, mengikis segala kegelisahan yang terpendam lama di hatiku.Mengapa Orang lain menjadi mutiara cinta nya, sedang mutiaraku rapuh?Namun taqdir telah tertulis oleh tinta-Mu dan telah Engkau pelihara dengan baik,aku hanya bisa pasrah, dan yakin bahwa semua yang telah Engkau tetapkan adalah yang terbaik untukku,ya!terbaik untukku, dan takkan pernah membuat kecewa…
***
Hari-hari kujalani kegiatan seperti biasanya, mengajar anak-anak SDIT Insan Kamil,mencari ridha dan keberkahan dari Allah di atas sajadah panjang yang telah Dia bentangkan di penjuru bumi-Nya, dengan semangat aku langkahkan kaki ini menuju tempat menuntut ilmu ,mengajarkannya dan mengamalkan sendiri apa yang telah aku berikan pada anak didikku.Aku tinggal sendiri, tanpa orangtua yang mendampingiku semenjak usiaku 12 tahun,dalam asuhan sang nenek yang kemudian wafat sebulan yang lalu ,aku mulai bangkit mencari jati diriku yang hilang,yang waktu itu rasanya tak ada gunanya lagi hidup,aku telah lupa Tuhanku, namun Tarbiyah telah menuntunku untuk mengais harapan baru yang masih bersembunyi di lubuk hati.
Sampai suatu saat harapan itu mulai berbunga dalam bentuk cinta,Affina namanya.Seorang aktivis dakwah yang sedang menjalani kuliahnya di UGM.Segala yang dia lakukan tampak memesona, begitu giatnya dia menjalani kegiatan dakwah di sini, begitu ceria rona wajahnya dalam keadaan apapun, begitu menjaga pandangan ketika ia bertemu aktivis ikhwan lain.Namun ternyata perasaan cinta ini telah dimiliki banyak ikhwan lain yang mungkin lebih cocok bersanding dengannya. Aku Pasrah kembali kepada Allah, mungkin Affina akan mendapat seorang yang ber-strata tinggi,lebih shalih dariku, atau mungkin lebih kaya, sedangkan akau hanya seorang guru honorer yang menghidupi diriku saja masih sulit, aku hanya lulus SMA, tak punya uang untuk melanjutkan studi ku sampai bangku perkuliahan,namun ketika takdir telah ditulis, aku yakin pasti inilah yang terbaik dari Allah untukku …
Waktu telah berlalu, semakin banyak sahabat-sahabatku yang telah mendapatkan teman setia dalam meniti jalan dakwah yang suci ini,dan aku masih sendiri, menata kehidupanku menjadi lebih baik, aku berusaha mencari beasiswa untuk melanjutkan jihadku dalam menuntut ilmu.Dan Allahpun Maha kuasa atas segala sesuatu.Atas kasih sayang-Nya dan rahmatnya yang begitu banyak untukku, aku mendapat beasiswa melanjutkan sekolah di Islamic University of Madinah, di Arab Saudi.Begitu dahsyatnya ketetapan Allah, begitu indahnya skenario yang telah tercipta untukku, namun harus ku korbankan melupakan Affina untuk waktu yang lama, mungkin saja setelah aku pulang dari Madinah, ia telah di khitbah oleh pemuda yang lebih cocok dariku, aku bertawakkal pada Allah,mungkin saja ini adalah titik balik hidupku, ketika Allah menjauhkanku dari yang aku harapkan, maka Ia akan mendekatkanku pada yang Allah harap…
”Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

***
Madinah Al-Munawwarah, musim haji 2009
Kota Nabi yang suci, tempat kekuatan islam dibangun dengan peluh ,darah,jiwa dan raga,tempat hijrah Rasulullah menuju awal baru untuk sebuah sejarah suci, dan begitu pula aku …di sinilah aku akan berhijrah menuju sebuah awal baru, untuk izzah dalam kekuatan dakwah islam di Indonesia.Sudah 3 tahun aku mengarungi lautan ilmu di tempat ini, dan Alhamdulillah aku telah menjadi penghafal al-Qur’an 30 juz penuh. Allah telah memudahkanku menuju jalan yang telah ku azzamkan.Maha suci Allah, Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kau dustakan?,namun entah mengapa hatiku masih dtambatkan-nya pada wanita shalihah nun jauh di sana, masih membayangi hidupku,walaupun telah kucoba menghilangkan wajahnya dari memori ingatanku,cinta itu malah semakin tumbuh tersiram rasa kerinduan yang makin lama makin menusuk,inikah cara Allah? Inikah kemauan Allah?,Bahkan sudah lama aku tak pernah mendengar kabarnya, sudahkah ia menikah?, ataukah mungkin sudah memiliki anak?, bagaimana keadaannya? Affina Husna Karima masih terbayang…
Musim haji kali ini ramai, kebanyakan mahasiswa membantu kelancaran kegiatan jama’ah haji Indonesia,termasuk aku.Aku ditugaskan sebagai guide untuk memandu jama’ah haji dalam perjalanan berkah menyusuri perjuangan nabi di Madinah.Sampai suatu ketika aku bertemu dengan teman lamaku yang sedang menjalani ibadah haji,sesama jama’ah ikhwan di Yogyakarta,mas Amrul namanya,da’i yang zuhud, dialah yang memperkenalkanku dengan Tarbiyah.Kesempatan ini tak ku sia-siakan.Rasa penasaranku terhadap keadaan Affina segera kutanyakan pada Mas Amrul.Dia mulai menceritakan segala yang terjadi di Jogjakarta, terhadap jama’ah , dan tentang Affina Ia ceritakan semuanya, ternyata Mas Amrul tahu banyak tentang Affina, karena MAs Amrul sering diundang untuk mengisi acara pengajian remaja di sekitar Desa Affina, dan Affina yang menjadi Panitianya.Ia mulai menasihati aku,menyemangati aku, dan menguatkan azzamku..
“Akh Marwan,kalau kamu mau melamar Affina ,sekaranglah waktunya..dia baru saja selesai dari studinya di UGM, sekarang orang tuanya sedang mencarikan jodoh untuknya, dengan mengharap Rahmat Allah ya akhi!, jadikanlah cintamu yang tertambat padanya sebagai ikatan suci yang diridhai Allah, jadikanlah dia penolongmu di jalan dakwah, sebagaimana Khadijah menolong Rasulullah ketika beliau terdesak di medan perjuangan, jadikan dia sebagai penghiburmu di kala kau jatuh, sebagaimana Aisyah menghibur Rasulullah dalam segala perjuangannya untuk membangun islam,jadikan dia wanita yang setia padamu, walaupun kau sangat sibuk dalam mempersiapkan kebangkitan ummat, sebagaimana siti Hajar yang setia kepada Nabi Ibrahim ketika dia ditinggal sedemikian lama di padang pasir tandus bersama Ismail,namun dia tetap setia kepada Nabi Ibrahim….pulanglah wan..dia wanita yang shalihah…”
Aku mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada mas Amrul. Dia sudah kuanggap sebagai kakakku, dia yang mengantarku menuju tarbiyah, dia yang menyemangatiku di setiap susahku, bahkan dia yang sering meminjamiku uang ketika aku dalam kesusahan ekonomi.
Setelah musim haji selesai, dan tak lama kemudia studiku rampung, aku bertekad pulang menuju tanah air tercinta, untuk mencari mutiara-mutiara cinta yang tercecer ,menyatukannya kembali menjadi perhiasan anggun di hati , dan memakaikannya untuk seseorang yang selalu terngiang di hatiku.
Dan atas izin Allah….Aku kembali!
Yogyakarta ,2009
Aku pulang ke tanah Air, dengan ilmu baru, dengan semangat baru untuk berdakah.Alhamdulillah Allah memberiku tempat yang baik di mata masyarakat, bahkan ditawari menjadi asisten Dosen de sebuah Universitas, menjadi pengisi Pengajian Minggu Pagi di masjid Agung,dan semua ini untuk izzah islam.Banyak Orangtua yang yang ingin aku menjadi menantunya, namun memang sebuah ketetapan Allah, aku ditawari Bapak Fathan, Murabbiku, untuk meminang seorang akhwat yang baru saja lulus dari UGM, ketika beliau bilang bahwa dia adalah …Affina, aku merinding, begitu kuatnya ketetapan Allah yang berulangkali tak pernah ku sangka…. Manusia memang tak bisa mengira apa yang akan terjadi beberapa jam lagi, bahkan beberapa detik selanjutnya pun tak terkira….
***
Bersama Bapak Fathan, Murabbi Halaqahku, aku berazzam melangkahkan kali menuju rumah Affina, untuk meng-khitbah nya, inilah langkah awal ku untuk merajut tali cinta kepada Allah, dan menguatkannya bersama belahan hatiku.Aku tidak terlalu dekat dengan Affina, aku jarang bertemu dengannya. Namun sekali aku menemuinya dan berkomunikasi, aku merasa gugup sekali, ada sesuatu yang menampar hati, aku lihat pula Affina juga salah tingkah, dia berkata tak beraturan,terakhir kali aku bicara padanya ketika koordinasi panitia ikhwan dan akhwat dalam kegiatan ramadhan tahun lalu.
Bapak Fathan menepuk-nepuk punggungku, mengisyaratkan aku jangan gugup saat dimintai bicara nanti.Namun hati ini rasanya bergejolak, mau pingsan, keringat dingin mengucur.Hanya dzikrullah,obat hatiku saat ini, apapun yang tertakdirkan, itulah yang terbaik dari Allah untukku….
***
Rumah Affina sederhana namun bersih .Di depan rumahya berjejer tanaman hias yang tampak dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Warna hijau rumah itu kian menambah suasana sejuk, membuatku sedikit merasa rileks. Di dalam rumah sederhana itu, tinggal Ayah dan Ibu Affina, dan kata seorang teman, Paman Affina juga sedang menginap di rumahnya untuk sementara waktu, tak jelas apa keperluannya.Kami mengangkat kaki dengan pelan, mencoba bersahaja dan berwibawa,Bapak Fathan mengetuk pintu…
“Assalamu’alaikum….”
Seseorang di dalam rumah menjawab salam, sayup sayup terdengar suara langkah kaki tergesa membuka pintu rumah,nampaknya seorang wanita.Pintu terbuka ,dihadapan kami berdiri seorang wanita muda, memakai pakaian biru tua dan jilbab biru muda, tidak lain dan tidak bukan dialah Affina,tersenyum ke arah kami.Hatiku langsung gugup ,jantung berdetak tak beraturan…Ya Allah ,Aku bertawakkal pada-Mu, aku berlindung pada Mu dari kesalahan berbicara, Aku memohon pilihkanlah jalan terbaik untukku, Wahai Penguasa Hati, tetapkanlah hatiku untuk lebih mencintai Mu dari segalanya ,lebih mengutamkan Mu dari semua yang melenakanku…
Dengan suara lembut dan malu dia berkata..
“Monggo pak,mas…masuk masuk….alhamdulillah Pak Fathan kesini..eh…ada mas Marwan juga ya,? wah ..ada tamu besar ini, silakan Pak.,Mas….”
Rasanya badanku mau terbang, masya Allah ,begitu santun, begitu anggun…dan ,Astaghfirullah…Ya Allah sesungguhnya dia masih haram untukku, maka jagalah aku dari panah-panah iblis ketika aku memandangnya…,jadikan aku hamba Mu yang menjaga mataku dari jilatan api neraka.
Ibu dan Ayah Affina datang ke ruang tamu, menyapa kami,sementara Affina seperti yang dilakukan wanita lain pada umumnya, menyiapkan minuman untuk sang tamu,itu pikirku.Pertama-tama Bapak Fathan membuka perbincangan dengan canda dan tawa, kami saling mengenal dan saling memahami, aku pun terbawa suasana,sehingga aku kembali tenang, namun di sisi lain hatiku masih tersimpan segunung kegelisahan, apa yang harus aku katakan nanti….
Perbincangan berhenti sejenak, Pak Fathan memalingkan matanya kepadaku, memberi isyarat bahwa beliau akan membulai perbincangan inti .Aku mulai gugup.Beliau berkata bijaksana, dan berwibawa, dia memuji Allah dan Rasul-Nya di awal pembicaraan,sedikit demi sedikit menuju pembicaran yang dimaksud,Beliau mulai menyatakan maksud kedatangannya kepada Ayahanda dan Ibunda Affina.Aku tertunduk….
Dan Affina pun tampaknya mendengar pembicaraan dibalik tirai kamarnya, sedang apa dia? Apakah dia berharap aku pulang saja dan pergi untuk selama-lamanya ,atau mengharapkanku menjadi belahan hatinya….
Ibu dan ayah Affina saling menatap, tampak ragu untuk menjawab, keduanya saling berusaha memahami apa yang terjadi.Aku mulai was-was, khawatir jangan-jangan apa yang tidak aku harapkan akan terjadi.Bapak Fathan menanyakan sekali lagi ,apakah Ayah dan Ibu Affina ridha dan setuju atas lamaran ini.Namun tiba-tiba seseorang keluar dari dapur ,mengenakan jubah dan sarung,berkumis tebal dan memakai peci hitam, dia berjalan ke arah kami ,semua tatapan tertuju padanya. Dia mengatakan bahwa dia adalah Paman Affina,dan mulai menjelaskan…
“Anak muda, kamu ini berani-berani ya datang kesini, ngelamar keponakanku lulusan UGM, dia anak orang terpandang di sini, kalau kamu nanya kepada saya, apakah setuju atau tidak jika kamu menikah dengan Affina, hm…dengan pasti saya jawab…TIDAK!, kenapa?…haha,karena keponakan saya sudah dijodohkan dengan pengusaha kaya dari Surabaya, pengusaha muda yang tampan,yang punya banyak uang, bisa menghidupi Affina, dan saya yakin Affin akan hidup sehat dan makmur bersamanya, kamu tahu nak …namanya Adiwijaya Aliyuddin,jadi maaf , anak baru kemerin kaya kamu itu cari yang satu nasib, Affina itu cantik, anggun, ya sudah..jodohnya tampan…bukan abal-abal “
Diam…semua diam dan tertegun, merasa terhina setelah apa yang dikatakannya…
Sambil tersenyum sinis ia menyakiti hatiku,tatapan Ayah dan Ibu Affina mengarah pada sang paman yang tampak angkuh dalam berbicara, Ia masih tersenyum sinis, mengelus-elus kumis tebalnya,tanpa menghiraukan tatapan tajan Ayah dan ibu Affin, ia melanjutkan perkataannya..
“Ya sudah ,kalau kamu nggak percaya… satu minggu lagi datang ke Balai Kota, mau ada resepsi pernikahan besar,kamu tahu nggak…biayanya limaratus juta!! Mahal kan?, makanya besok datang, biar bisa makan enak, iya kan mas, mbak…”
Sang Paman menatap orangtua Affin.Bapak Fathan menunduk sambil menggelengkan kepala,nyaris terlihat guratan keputus asaan di wajahnya.Apalagi aku, bayangkan…aku dan Bapak Fathan telah datang kesini dengan baik, sementara Sang Paman “yang terhormat” itu telah mencabik-cabik harga diriku, berkata seenaknya. Dan aku juga sadar…baiklah, memang aku orang miskin, aku orang biasa, aku hanya manusia yang tak punya harta berlimpah…aku ,aku..aku hanyalah Marwan seorang yatim piatu, menatap wajah Ayahku saja aku tak pernah, apalagi mengetahui aku ini anak keturunan siapa…terhormatkah? Atau terhempas dari khalayak masyarakat..?
Allah mengisi hatiku dengan ketabahan seketika, menghapus segala keputus asaan…kesedihanku tak terperi, Yang aku tahu, Allah telah menetapkan yang terbaik untukku, Yang Terbaik…sekarang Mutiara cinta yang telah aku kumpulkan terpencar lagi …saling menjauh ,Namun aku tak sendiri, masih ada Bapak Fathan, Sang murabbi yang menyemangatiku melewati hidup ini.Aku yakin akan pertolongan-Mu ya Allah..yakin!
Kami meninggalkan rumah Affina,namun ku harap tali silaturahmi tidak terputus, aku sadar bahwa inilah suatu ketetapan yang akan Indah pada saatnya.Orangtua Affina meminta maaf atas kelancangan Sang Paman terhadap kami, Bapak Fathan tersenyum bersahaja, menatapku..seperti tatapan seorag ayah yang berharap anaknya menemukan yang ia Impikan suatu saat nanti.Kami mulai melangkah, menjauh dari rumah sederhana itu, namun aku menangkap seseorang memandangku dari jendela, mungkin jendela kamarnya..ia menangis tersedu, mengeluarkan air mata…Affina menangis,apakah Adiwijaya Aliyuddin akan membahagiakannya, sementara aku belum pernah mendengar seorang kader yang bernama Adiwijaya, seorang Pengusaha kaya… Semoga hidupmu bahagia nantinya , Affina. Biarkan ku susun lagi mutiara hati ku untuk memeroleh rahmat Tuhan-ku.
***
Pekan yang gundah, aku terbayang oleh kesedihan yang tiada terkira, mungkinkah harapan masih ada?, karena Allah masih menggoreskan nama Affina di hatiku, mengapa jika Aku ingin melupakannya, nampaknya Allah menghadirkannya kembali dalam kenangan yang indah.Ya Allah, inikah cinta –Mu?, Engkau masih menggoreskan tentang Affina di hatiku, padahal dia sudah dikhitbah orang lain yang mungkin lebih baik dariku.6 hari lamanya ku menanti sebuah peristiwa yang akan bereaksi untuk hidupku selanjutnya. Para kader lain membantu menyebarkan undangan resepsi pernikahan A&A, Affina dan Adiwijaya. Bapak Fathan juga mengutus beberapa ikhwan kepanduan untuk menjadi keamanan dalam resepsi tersebut.
Namun banyak orang bertanya-tanya, mengapa biaya seluruh resepsi ditanggung Keluarga Affina?, sampai sekarang Adiwijaya masih belum kulihat, seperti menjadi sebuah bayang-bayang semu. Kami belum pernah bertemu dengan calon suami Aktivis dakwah akhwat ini, kami hanya mendengar nama, dan menelpon…itupun sesekali,kata Sang Paman, Adiwijaya akan datang ketika Resepsi dilaksanakan, Sepertinya Adiwijaya sangat akrab dengan sang Paman,namun sang Paman ini tidak mau memberitahu dimana tempat sekarang Adiwijaya berada.Para ikhwan mulai bertanya-tanya.Akupun bingung…

***
Hari Resepsi Affina…
Ramai, orang-orang yang diaundang mulai berdatangan ke balai kota, Sebagian anggota kepanduan bersiap di depan gerbang ,menjaga keamanan dan kerapian acara.Akhwat lain menjadi penerima tamu, aku ditugaskan menjadi pembaca Al-Qur’an, ya…membacakan kalam Illahi untuk pernikahan antara Affina dan sang pengusaha kaya Adiwijaya Aliyuddin. Sedikit-sedikit aku ke tempat wudhu di sudut balai kota, menangis dan mengucurkan air mata, bagaimana mungkin aku bisa membacakan Al-Qur’an yang suci ,sementara hatiku menyimpan kekesalan nyata terhadap seorang bernama Adiwijaya yang begitu rahasia identitasnya? “Sudahlah Marwan, takdirmu bukan terhadap Affina, apa yang kau inginkan belum tentu baik untukmu, apa yang kau jauhi ,mungkin justru itulah yang akan menjadi keberkahan bagimu”, harapku…
Waktu terus berjalan, menyusuri detik-demi detik, merayap menuju saat-saat penting bagi kehidupan dua insan, rencananya akad nikah dan resepsi akan diadakan jam 8 tepat, namun sampai jam setengah Sembilan, acara belum dimulai ,bahkan pengantin pria belum datang.Aku lihat Affina, anggun bergaun putih syar’I duduk diatas kursi merah di tempat akad…dia tampak memegang mushaf Al-Qur’an,sesekali mengusap air matanya ,sesekali menatap ke orang-orang yang datang.Nampaknya Affina cemas.
Namun mengapa Adiwijaya belum datang?, mengapa hanya angan-angan kosong yang terlihat, tanpa mengucap sebuah kata-kata pesona kepada calon pujaan hati?,belum Nampak tanda-tanda kedatangannya.Sang Paman yang telah menjodhkan Affina dengan Adiwijaya gugup ,Nampak ingin mengatakan sesuatu namun enggan, karena mungkin mengakibatkan sebuah resiko.Akhirnya dengan langkah berat, sang paman menjelaskan kepada Orangtua Affina,bahwa Adiwijaya sekarang tidak bisa datang,dia sedang ada urusan mendadak dengan client-nya.
Semua terkaget-kaget,bisa-bisanya seorang mempelai lelaki menunda sebuah peristiwa besar dalam hidupnya,hanya karena ada sebuah bisnis kelas tempe yang dia urus bersama client-nya.Kami semua sontak kaget dan semakin bertanya, Keluarga jelas malu….sudah banyak orang datang ke Balai kota untuk menyaksikan ikatan antara dua hati, namun Adiwijaya menghancurkan semuanya.
Keadaan kocar-kacir, Ayah dan Ibu Affina gelisah, Affina menangis, Jika peristiwa ini ditunda bagaimana jadinya, keluarga Affin akan menanggung malu yang besar.Bapak Fathan tak tinggal diam.Beliau mrasakan sesuatu yang tidak beres dengan Adiwijaya yang dijanjikan Paman Affin sebagai mempelai lelaki.Pak Fathan mengumpulkan semua ikhwan di ruang istirahat, memberi komando untuk melacak secepatnya siapa Adiwijaya. Akhirnya semua bergerak.Aku mencari informasi di kader Surabaya ,Adakah nama Adiwijaya dalam deretan kader jama’ah, ataukah benar ia seorang pengusaha kaya.
Sang Paman tak lupa kami interogasi secepatnya, kami tanyai dia.Mula-mula ia enggan menjawab, namun banyak orang terlanjur kesal, dan memaksanya berbicara. Ia mengaku pernah bertemu Adiwijaya, dia pernah beberapa kali datang ke rumah Affina dengan menggunakan jas dan mobil mewah, wajahnya tampan, namun tak tampak dia seorang ikhwah..ia hanya mencari informasi di biro jodoh di sebuah Koran, lalu ia dapatkan nomor telepon Adiwijaya, dan langsung meminta Ayah dan Ibu Affina untuk menjodohkan Adiwijaya dengan Affina,padahal Adiwijaya baru datang ke bersilaturrahim 3 kali, belum Nampak sebuah kejelasan dia jujur, atau sekedar main-main.Benar-benar ceroboh!, bisa-bisanya Ia langsung percaya dengan sebuah biro yang belum pasti menjanjikan kenyataan, apalagi dia tidak tahu seberapa shalihnya , seberapa pahamnya Adiwjaya tentang agamanya…keluarga Affin geram..
Aku tidak tega melihat Affina, ia menangis, menutupi wajahnya, jilbabnya basah, lesung pipinya tak kulihat, sembab,aku bisa merasakan perkara ini sangan sulit untukmu Affin, mari kita cari kejelasannya segera..
Dan seorang kader berhasil melacak dengan cepat, langsung ke biro jodoh yang telah didatangi sang Paman, Pak Fathan langsung mengumpulkan semua ikhwan yang ada di sana ,termasuk memintaku menjaga keadaan.Para Tamu masih menunggu di kursi-kusri yang berderet, sepertinya sebagian mereka sudah mengetahui masalah yang sedang terjadi, waktu menunjukkan jam sepuluh kurang limabelas, telah terundur hampir dua jam!
***
Pak Fathan meminta semua diam,dan mendengarkan kejelasan tentang Adiwijaya,
“Ayyuhal Ikhwan, kita sedang mengalami masalah yang berat, suatu masalah yang menimpa saudari kita seiman, Affina Husna Karima,dia dilamar oleh seseorang bernama Adiwijaya , seorang yang megaku sebagai pengusaha kaya, namun apa yang informasi yang telah kita tangkap?
Semua orang diam ,menunggu jawaban pasti dari Bapak Fathan, Nampak Ia berat untuk mengatakannya ,namun aku meminta beliau agar jangan ragu-ragu, karena waktu telah mendesak…
“,…ternyata Adiwijaya mempunyai nama asli Tirto Adiono, seorang tukang sayur di salah satu pasar di Surabaya, ini sudah fakta, dan ini kebenaran…keluarga ukhti Affina telah ditipu..!”
Semua tak menyangka, akan jadi begini masalahnya.Para oaring yang mendengar beristighfar, seakan tak percaya bahwa ini adalah kisah nyata, bukan seperti dalam sinetron atau sejenisnya.Pak Fathan member isyarat dengan gerakan tubuhnya, beliau mau bicara kepada semua ikhwan…
“Sekarang, siapa yang berkenan dari ikhwah semua untuk menggantikan Adiwijaya alias Tirto?,Adakah dari para ikhwan yang mau ?”
Inilah puncak segala hikmah dalam hidupku,semua tersentak kaget kembali,manamungkin menikah ditentukan dalam waktu 5 menit?..sebuah peristiwa yang jarang,semua saling menatap…diantara yang berkumpul ,mereka melihat-lihat, mengira,dan memilah..kebanyakan sudah berkeluarga dan ada yang baru saja menikah, dan satu-satunya yang belum menikah adalah…….Aku seorang!!..Ya Rabb, bagaimana takdirmu telah mengantarkanku menuju sebuah simphoni alur yang dahsyat.!., Bapak Fathan berkata lagi
“Ehm….Ikhwan,sepertinya saya tahu siapa lelaki yang paling cocok untuk bersanding dengan ukhti Affina..”
Beliau berhenti sejenak,lalu melanjutkan…
“Akh Marwan Abidzar,Aku tak menyangka ,hanya kau yang belum menikah disini…tak ada pilihan lain, tolonglah saudarimu nak…Maukah?, Apakah kau ingat ketika Aku bersamamu datang ke Rumah Affina untuk melamarnya, namun sang Paman telah mengatakan bahwa Affin telah dikhitbah?,Sungguh Demi Allah di tempat ini Bapak melihat sebuah takdir yang tak pernah disangka, Allah mengasihimu Marwan…Allah menunjukkan ketetapan yang indah untukmu ..,Marwan…”
Aku hanya bisa diam seribu bahasa,
“Aku butuh jawabanmu, Marwan ..bukan diammu…”
Aku menangis haru, tersenyum ..dan ,…mengangguk dalam sebuah hikmat yang agung..
“Aku bersedia Bapak….Insya Allah,ini adalah taqdir Allah untukku…dan ini adalah yang terbaik untukku…”
Semua yang berada di ruang istirahat bertakbir,disini sebuah mozaik terjadi, sebuah pelajaran tentang taqdir yang Indah benar-benar terucap dalam sebuah alur-alur mutiara tasbih yang tersusun dalam lubuk hati.Affina menunggu, lesung pipinya kembali kulihat,tersenyum memandang ke arahku, sebuah isyarat harapan meloncat-loncat dari matanya ,menuju hati ini.Namun bagaimana maharnya? Bagaimana aku akan mencari mahar untuk menggantikan Adiwijaya?
Kebingungan ini melandaku, masalah baru muncul ,semua ikhwan juga sedang memikirkan,mahar apa yang harus diberikan kepada Affina?
Tanpa diduga,seseorangdatang dan berbisik kepada Pak Fathan ,dialah sang Da’i,Mas Amrul …lalu ia berdiri di sampingku dan berkata..
“Bukankah Engkau seorang Hafidz…..benar kan ,Marwan?”
“Ya, Alhamdulillah Mas Amrul…”
“Jadikanlah bacaaan Qur’anmu menjadi mahar untuk Affina…”
Aku tertegun….benar apa yang dikatakan Mas Amrul padaku…,dan akhirnya mutiara cinta Al-Qur’an menjadi sebaik-baik mahar yang telah kuberikan kepada tambatan hatiku, Cinta kepada Allah melewati Affina telah mengantarkanku menuju sebuah ketetapan indah, begitulah Allah mengatur, begitulah Cinta menakdirkan, begitulah ….mutiara Cinta itu tersusun rapi,menciptakan perhiasan hati untukku ,dan akan kupersembahkan pada Allah, …Maka Dia-lah sebaik-baik Maha Cinta, ia memberi rasa cinta padaku dan padanya….,
Setelah Akkad selesai ,aku berbisik ke Affina…
“Wahai Bidadariku,…Mutiara Cintaku takkan terurai lagi menjadi butir-butir harapan, karena sekarang engkau telah mengikatnya menjadi Mutiara Cinta yang terindah, ketahuilah, mutiara ini dibalut oleh Asma-Nya….,dioles oleh kebeningan air matamu di setiap sujud, dan dilapisi perjuangan dakwah yang suci…”

Sunyi yang dirahmati Maha Cinta,
Markas Dakwah,23 Desember 2010
Muhammad Edgar Hamas

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close